sponsor

Slider

Events

Zona Cadas

Interview

Album Review

Band Profile

Info Cadas

Cover Album

Ngobrol Seru dengan Phopi Ratna Agustina Lose It All, Menyelami Sisi Lain Musik Underground


FEMAEL VOKAL
Phopi Ratna Agustina
ZONA CADAS | Interview - Unik mungkin adalah kata yang pas digunakan untuk mendeskripsikan Phopi Ratna Agustina (28). Sebagai vo­kalis di salah satu band underground beraliran metal hardco­re ,Lose It All, sudah pasti Phopi kerap berjingkrak dan berteriak.

Segudang hobi menantangnya juga mungkin membuat banyak lelaki minder karena merasa kalah cadas. Bagai menyelami dua sisi, Phopi Ratna Agustina juga punya hobi memasak dan naluri keibuan yang tinggi.

Sore baru saja beranjak dari kawasan Jalan Sukagalih, Sukajadi, Kota Bandung. Phopi yang baru menyelesai­kan pekerjaannya di Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Bandung Barat. Seragam dinas berwarna khaki pun ditanggalkan. Ia menggantinya dengan jeans dan kaos oblong berwarna hitam. Tak lupa, bandana menghiasi rambut pendek yang disebutnya ”sudah gondrong” itu.

Setiap Senin hingga Jumat, Phopi Ratna Agustina berangkat bekerja sekitar pu­kul 6.30. Dari kediaman keluarganya di kawasan Lembang, Phopi menempuh perjalanan sekitar setengah jam ke area perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat di kawasan Ngamprah, Ka­bupaten Bandung Barat.


ZONA CADAS

Baru pada akhir pekan, ia merasa menjadi Phopi Ratna Agustina yang sesungguhnya. Jadwal manggungnya bersama band metal hardcore Lose It All, sudah tersusun rapi. Bukan hanya di area Jawa Barat, dia juga seringkali harus menyambangi panggung underground di luar Jawa.

”Rasanya kerja kantoran ya mengalami kegiatan yang berbeda tapi karena motivasi besar dari Mamah, jadinya aku menjalankan itu seperti ibadah saja. Meskipun butuh adaptasi ekstra karena ha­rus bangun lebih pagi dan harus bertemu dengan sistem yang ter­kadang kurang sreg, sekarang sih udah cukup enak karena team work-nya juga enak,” ucap Phopi Ratna Agustina memulai obrolan

Menantu idaman mertua

Phopi Ratna Agustina adalah sulung dari tiga bersaudara pasangan N Nurhayati dan Nandang Onang Budiman.

Dia sempat menjadi pega­wai salah satu bank swasta yang berkantor di Jalan Setiabudhi, Kota Bandung. Dia juga pernah bertugas sebagai tim marketing di Hotel Aston Tropicana, Bandung.
”Pekerjaan kantoran kan harus pakai kemeja, rok, jas, dan selalu dandan ya. Jadi, kalau udah selesai kerja, langsung ganti baju,” ucapnya.

Kehadiran kaos (yang sebagian besar) berwarna hitam, celana jeans, dan sepatu Vans, tak pernah absen dari ransel yang setiap hari disandangnya.

”Biarin dibilang luarnya cadas juga, yang penting di dalamnya te­tap menjadi perempuan yang berkualitas sambil tidak mengesampingkan hobi,” katanya setengah bercanda.

Phopi Ratna Agustina yang sangat menggemari offroad, mountain biking, skate board, dan motor trail ini juga memiliki hobi yang feminin.

”Aku tuh suka banget masak, bikin kue. Motong rambut orang juga aku bisa. Pokoknya, aku andal di segala medan lah, calon menantu idaman mertua,” ucapnya.

Awalnya menggebuk drum

Sejak kanak-kanak, Phopi Ratna Agustina sudah menunjukkan keterta­rikan di bidang musik. Terpengaruh musik yang sering didengar­kan sang ayah di rumah, dia jadi menggemari musik yang di­ba­wakan The Beattles dan Rolling Stones.

Saat beranjak remaja, gen­re musik yang didengarkan mulai meluas. Ia banyak mendengar­kan sajian musik ala Slank, Iwan Fals, Nirvana, Linkin Park, Limp Bizkit, Slipknot, dan Korn.
”Waktu SMA, baru deh kenalan sama drum. Awalnya, cuma iseng-iseng bikin band sama teman-teman untuk tujuh belasan. Pas masuk studio, kayak love at the first sight saja. Aku pikir, boleh juga nih main drum,” katanya sambil tertawa.

Dari yang tidak mengerti bermain musik sama sekali, dia mulai belajar menggebuk drum secara autodidak. Berbekal melodi ”Zombie” milik The Cranberries hingga ”Viva Forever” milik Spice Girls, dia mulai mengulik permainan drum.

Dari situ, dia mendirikan band bersama teman-temannya yang dinamakan Monalisa. Mereka memainkan musik bergenre skate punk.

”Waktu itu, aku dan Monalisa main di mana-mana, mulai dari Dago Tea House, AACC (Gedung Asia Afrika Cultural Center), juga Saparua. Beruntung banget di zaman itu masih bisa bermain di tempat-tempat bersejarah yang sekarang udah dilarang main,” tutur­nya.

Sambil berkuliah di Jurusan Manajemen Pemasaran Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia, dia juga sempat menjadi ba­rista di Potluck Coffee. Di sana, ia semakin berkenalan dengan ba­nyak orang
 Hingga pada suatu hari, tawaran menjadi drummer sebuah band baru mampir menghampirinya.

Band itu kemudian dikenal sebagai Angsa dan Serigala yang ma­sih aktif bermusik hingga kini. Bersama enam personel lain, ia me­mainkan genre rock folk dan baroque pop. Sebuah irama yang tentu saja jauh berbeda, dari irama yang dimainkan Phopi Ratna Agustina bersama Mo­nalisa.

”Memang beda tapi karena aku suka tantangan, aku coba saja. Ternyata aku suka juga. Mungkin karena ada rasa dan passion banget sama musik, jadi semua terasa mudah saja,” ujarnya.

Lose It All

Di pengujung 2008, dia mendirikan band lain bernama Lose It All bersama teman-temannya. Berbeda dengan perannya di dua band terdahulu, kali ini bersama Lose It All, dia bertindak sebagai vokalis. Sebagai vokalis band metal hardcore, sudah pasti hampir seratus persen lagunya dinyanyikan dengan cara berteriak.

”Radang tenggorokan sudah tidak terhitung. Dari situ, aku jadi banyak mendengarkan sharing vokalis dan mentor lain,  sampai sekarang, tidak minum es dan gorengan, olah raga juga harus benar,” tuturnya.

Selama tiga tahun bersama Lose It All, dia merasa bisa melakukan manajemen waktu dengan baik. Sebisa mungkin, ia mengatur jadwal agar tidak ada jadwal manggung yang bentrok di antara ketiga bandnya. Sampai pada akhir 2011, ia dihadapkan pada situasi yang mengharus­kannya mengatur prioritas.


”Awalnya aku meninggalkan Monalisa. Sedih sih karena aku kan sayang band aku tapi mau bagaimana lagi. Terus tahun 2013, aku harus menyelesaikan skrips. Setelah selesai, aku harus keluar dari Angsa dan Serigala. Jadi, sekarang cuma jalan dengan Lose It All,” ujarnya.
Setelah Lose It All, apakah dia masih penasaran ingin mencoba bermusik di genre yang lain? ”Sudah terpikirkan olehku. Soalnya aku juga pernah nya­nyi solo. Semoga bisa nyaingin Raisa,” katanya diikuti tawa lepas.

Segudang hobi menantang

Di atas panggung saat pentolan Lose It All, Phopi Ratna Agustina yang berwajah imut bertransformasi menjadi perempuan kuat yang cadas. ”Bakat” cadas itu rupanya juga hadir sebagai hobi yang dipilihnya untuk melarikan diri dari aktivitas perkotaan, mencari inspirasi, atau sekadar mengisi waktu senggang.

Lose It All


Dia, misalnya, punya naluri petualang yang patut diacungi jempol. Dia sering kali menjelajah trek ekstrem memasuki hutan, naik dan turun gunung serta jurang, lalu memilih tebing terjal dan curam, mengendarai motocross.

”Bukan tomboi yah, tapi gentle girl,” ucapnya diikuti senyum.

Bermain skate board juga menjadi pilihannya untuk menenangkan diri. Sebisa mungkin, ia tak absen dari perhelatan meng­gelinding bersama teman-teman skate boarding. Saat manggung ke daerah lain, ia sering kali mengajak skate board-nya.

”Soalnya, skate board kan kecil ya, jadi bisa dibawa ke mana-mana,” ujarnya.

Saat melakoni hobi-hobi tersebut, dia kerap lupa terhadap semua masalah. ”Rasanya enteng saja, soalnya fokus aku cuma antara aku dan si motor atau si skate board,” katanya.

Guru

Selain hobi menantang yang dilakukan secara fisik, Dia juga punya kegemaran yang ”menantang” otak dan jiwa sosialnya. Beberapa tahun terakhir, dia menjadi guru.

Selain pernah menjadi guru di salah satu SMK untuk jurusan perhotelan, dia juga terlibat pada misi sosial mengajar anak-anak putus sekolah yang dilakukan bersama lembaga Per­serikatan Bangsa-Bangsa, UNICEF. Ia mengajar di bidang kuliner dan perhotelan.

”Aku juga punya jiwa melankolis. Kalau ada yang bikin sedih, jadi bawaannya sedih terus. Apalagi kalau lihat anak-anak yang idak sekolah karena tidak ada biaya,” tuturnya.

Anak-anak yang menjadi anak ajarnya semakin banyak. Bukan hanya mengajarkan bidang yang dikuasai, dia juga mengajarkan bi­dang lain yang diinginkan anak-anak. Dari jadwal mengajar di hari Senin dan Kamis, tak jarang dia juga menambah jadwal belajar di akhir pekan.

”Aku sering bertanya, mereka mau belajar apa. Mereka bilang komputer, ya sudah ayo saja. Kadang juga belajarnya di rumah saya,” ujarnya.

Untuk menyediakan bahan pelajaran, dia seringkali mengambil intisari dari berbagai sumber yang kemudian dirangkum dengan bahasa sehari-hari. Bahan itu difotokopinya, lalu dibagikan ke­pada anak-anak.

”Satu hal yang saya tekankan ke anak-anak, skill dan ilmu itu nomor dua dan tiga, nomor satunya tetap attitude. Karena prinsip saya, hirup mah kumaha pepelakan, proses enggak pernah meng­khianati hasil,” tuturnya.

Lose It All


Selain hobi-hobi itu, sekarang ada hobi lain yang ”menantang” jiwa femininnya dan sedang giat-giatnya dilakoni. Hobi itu adalah memasak dan membuat kue. Hobi itu tekun dilakoninya ketika berada di rumah.

”Kalau masak, lebih ke happy saja. Saat orang lain mencoba ma­sakan kita dan senang, itu juga bikin saya senang. Membayangkan re­aksi orang saat suapan pertama, rasanya menyenangkan,” ucap pencinta masakan Sunda ini.

Lewat berbagai hobi positif itu, dia juga ingin menyampaikan bahwa tak semua musisi underground lekat dengan stigma negatif.

”Semua bergantung kepada orangnya masing-masing. Hampir separuh umur di musik underground, saya merokok juga tidak. Karena banyak hobi, jadi pergaulan yang jelek-jelek alhamdulillah tidak diikuti,” katanya mantap.(Obz)

JAKARTA MOVING STAGE

ZONA CADAS

SupermusicId @supermusic_id present
"JAKARTA MOVING STAGE"
Sabtu, 28 April 2018
At Jl.H.Awaludin 3 RW.017, TANAH ABANG - JAKPUS
MC : Allay Error @allayerror

Special perform :
- MARJINAL
- FUNERAL INCEPTION
- S.A.B.O.R
- CHILDREN OF GAZA
-CADAVER
- SOULARE
- STEADY BEAT
- BUTTERFLY EFFECT
- CABRON
- OVER CUT
- 2JINGGA
-STAX
-MOVE FOR WIN
- DURJANA
- NYAWA
-HELL FREEZED
- RSKO
- RED SIX
- DUBZILLA

Tatto Show Perform
By : DD Tattoo
Hair Cut Perfom by BW & KM 18 @juna_lacatus
Grafity by @jsw_crew

HTM 30K + GIFT

More info :
087882206648

Supported by:
#GenerasiSuper
#jakartamovingstage2018
#jawara
#taringbabi
#awd
#dapurletter
#irsmedia
#sickness
#crazyinc
#minoralliance
#garasihitam
#mietanpatanding
#rangrangcore
#respect

BLASTING ROOM

SINGAPARNA DEATH METAL

Singaparna Death Metal - SDM
PRESENT
BLASTING ROOM
Saturday april 28 th
Live at EJ Musikstudio cikadongdong Tasikmalaya/singaparna

Vomiting
-Punishmentpile
-Discorpse
-Disvigured
-Dissecting
-Brain Decay
-Servan Of God
-Tuan Jenggot
-Microcephaly
-Injak System
-Black Vicious
-Taneuh
-Bernyawa
-Rotten Core
-Forlast Sabian
-Sick Inside

Supported :
-Us Merchandise
-Super musik id
-Ej entertaiment
-Metalgear
-Seni Penderitaan
-Donki
-Mazesty

KERTABASA BERISIK

fleyr acara metal

KERTABASA BERISIK
- Kami Bangkit Kembali -
Minggu , 17 Juni 2018 | @Lapangan volli kertabasa

Special perform :
- SELENDRO PAMUDJAN ( Cilacap )
- AMBORSINE ( Pemalang )
- MUKENA PUTIH ( Pekalongan )
- GLANET ( Bumijawa )
- ANKER ( Kertabasa )
- KEMBANG CEMPAKA ( Bumijawa )
- HISTORY OF MUTILATION ( Sirampog )
- PASUKAN TIMUR AL-MAHDI ( Bumiayu )
- PEJARATAN ( Kertabasa )
- BLACK REGEDZ ( Bumiayu )
- DARKLINE ( Bumijawa )
- DANGER DREAM ( Sirampog )
- PYROKINESIS ( Sirampog )
- BEROUD ( Bumijawa )
- SPERM OF MAMMOUTH ( Tegal )
- HALITOSIS ( Bumijawa )
- KUDEKAN ( Sirampog )
- FORMER GODDAMN ( Bumijawa )
- LITTLE FREAK ( Bumijawa )
- CIU SQUAD ( Kertabasa )
- EXIMER ( Kertabasa )
- KHODAM ( Bantarkawung )

Support by :
- Anker Community
- Ghazi Merch
- DR. Project
- South Brebes Metal Syndicate
- Watujaya Metalhead
- PJR Merch
- Kaum Kusam
- Indah Printing & Fotocopy

Biografi : ASTOR AYEM

zona cadas webzine

  • Band          : ASTOR AYEM
  • Since          : 2012
  • Genre         : Grindcore
  • Hometown : Pasuruan, East Java, ID
  • Line-Up : 
- David  (vocal & Bassis)
- Tokek (Guitaris)
- Phepy Biawax  (Drummer)

  • Record Label :
Independent
  • Contact :   
0895-8041-82179
  • Web/Social Media :
FACEBOOK

  • Biografi Band:
ZONA CADAS - Pada pertengahan tahun 2012, Pephy (Drumer), Tokek (Guitar), Dadang (voc), mendirikan sebuah band yang bernama ASTOR AYEM, band ini berjalan dengan lancar, dan memilih untuk memainkan genre grindcore. 

Sampai berjalan pada tahun 2013, David masuk untuk mengisi kekosongan pada Bass, kemudian pada tahun 2014 Dadang (voc) memilih untuk mundur dari ASTOR AYEM  dikarenakan menikah. pada saat itu posisi Vocal kosong, kemudian
David merangkap menjadi vocal sekaligus basist. 

Sampai saat ini David berada di posisi yang sama yaitu sebagai vokal & basist. sampai saat ini ASTOR AYEM berjalan dengan tiga personil, dengan linup kami sekarang pada tahun 2017 kami berhasil mengeluarkan Album yang bertajuk GRINDCORE SAMPAI BUSUK  dan kami merilist album pertama kami secara Independent.

GROUPIES DEATHFEST #4

zona cadas webzine

GROUPIES DEATHFEST #4
INSITUTE FRANCAIS INDONESIA - BANDUNG, 28-04-2018

- Vomit Remnants
- Jasad
- straightout
- Turbidity
- Auticed
- Repton
- Chalera
- Distempered